Menikmati Bubur Samin, Melacak Jejak Perantau Banjar di Solo

Setiap memasuki bulan puasa atau Ramadan, banyak daerah mempunyai beberapa keunikan sehubungan aktivitas ibadah, buka puasa dan sebagainya. Beberapa di antaranya juga terkait keunikan makanan yang disajikan saat berbuka. Bisa dikatakan momen ini merupakan sebuah peristiwa budaya, religi sekaligus wisata kuliner yang pantas untuk dinikmati,

Di Solo, ketika Ramadan tiba ada satu masjid yang selalu menggelar agenda berbuka bersama dengan menyediakan makanan khusus. Masjid tersebut adalah Masjid Darussalam yang ada di Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, yang membagikan makanan khas Banjar yaitu bubur samin.

Sekilas tentang bubur samin

Apakah bubur samin itu?. Ini merupakan bubur yang dimasak dengan racikan bumbu rempah antara lain bawang merah, bawang putih, sereh, laos, kayu manis, jahe, kapulaga Arab hingga minyak samin. Sementara buburnya berbahan dasar beras.

Panitia buka puasa Masjid Darussalam biasanya mempersiapkan menu bubur samin ini sejak selepas sholat dhuhur. Mereka secara bersama-sama memasak 45 kilogram beras jadi bubur samin.

Beras dan nasi diaduk menjadi bubur selama kurang lebih 2 jam. Kemudian dicampur dengan sayuran seperti wortel, bawang bombay dan daun loncang. Tak lupa diberi irisan daging sapi ke dalamnya untuk menambah cita rasa.

Selepas azhar biasanya bubur sudah masak. Setelah itu akan diikuti kedatangan warga yang membawa piring, mangkok atau rantang untuk meminta jatah bubur samin. Selai itu tersedia pula bubur samin yang disediakan secara khusus untuk acara buka bersama di Masjid.

Sejak 1965

Aktivitas pembagian bubur samin untuk berbuka puasa ini sudah dilakukan sejak tahun 1965. Akan tetapi kala itu hanya terbatas di lingkungan masjid saja. Kemudian sejak tahun 1980-an, panitia mulai membagikan bubur samin secara gratis ke masyarakat umum, khususnya untuk masyarakat yang tidak mampu.

Meski begitu, bagi masyarakat yang mampu tapi ingin mencicipi pun diperbolehkan. Terlebih bagi wisatawan yang datang ke Solo karena merasa penasaran dengan citarasa masakan yang sangat lezat namun hanya ada di bulan Ramadhan saja.

Porsi yang dibagikan adalah 900 porsi untuk dibawa pulang oleh warga yang menginginkan, sementara 200 porsi disediakan khusus untuk buka puasa di Masjid Darussalam. Total panitia menyiapkan bubur samin sebanyak 1.100 porsi.

Konon keberadaan bubur samin di Kota Solo tidak lepas dari jejak perantauan para pedagang permata dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan ke kota ini sejak 1890. Sebagian besar dari mereka memang banyak yang bermukim di Kampung Jayengan.

Tak hanya mendirikan surau, mereka juga membawa budaya memasak dengan menggunakan bumbu samin. Inilah yang kemudian ikut mewarnai budaya penyediaaan menu buka puasa di kawasan Kampung Jayengan, salah satunya direpresentasikan melalui bubur samin.